Apakah Dengan Membeli Asuransi Artinya Menomorduakan Tuhan

Apakah Dengan Membeli Asuransi Artinya Menomorduakan Tuhan

Seiring zaman yang makin berkembang dewasa ini, maka kebutuhan masyarakat di bidang ekonomi juga ikut meningkat. Untuk mencukupi berbagai kebutuhan itu, terkadang kita harus bekerja ekstra. Dari pagi sampai malam kita terus bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan menantang berbagai resiko yang siap menghadang di depan mata, seperti penyakit, kecelakaan yang dapat berakhir pada kematian? Karena memang kebutuhan dalam rumah tangga yang sangat tinggi sudah mendesak. Tetapi ada jawabah klasik yang sering dipakai, yaitu yang penting semua perangkat dan kebutuhan sudah terpenuhi sebelum menghadapi maut. Seperti, mengikuti berbagai asuransi yang ada, termasuk asuransi jiwa. Kita tidak sadar bahwa maut dapat menghampiri kita kalau diizinkan atau sudah ditentukan oleh sang Khalik.

Berbicara asuransi memang sangat berhubungan dengan kehidupan iman kristiani. Di sisi lain, para hamba Tuhan semacam memberi ruang kompromi dengan mengikuti asuransi. Dengan berbagai alasan dan argumen yang juga masuk akal. Argumen-argumen yang terungkap seperti ini, itu kan tidak berhubungan dengan dosa. Kalau ikut asuransi tidak berbeda dengan menabung.

Argumen-argumen itu benar. Tetapi ada kalanya orang yang telah mengikuti asuransi jiwa itu telah menomorduakan iman. Artinya, orang tersebut tidak takut dengan kehidupan ekonomi keluarganya kalau dia mati, karena ada asuransi yang akan menolong kehidupan ekonominya.

Masih hangat di ingatan kita bahwa Alkitab mengajarkan agar kita tidak kuatir dengan hari esok. Ada juga ayat yang sangat jelas, yaitu barang siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Lebih dari itu, firman Allah menjelaskan pada kita bahwa hidup ini semua telah diatur oleh Tuhan. Apa pun yang akan terjadi semuanya tidak lepas dari kendalinya Tuhan. Firman Tuhan berkata sehelai rambut pun tidak akan jatuh kalau tidak seizin Tuhan. Artinya, Tuhan tidak akan membiarkan umatNya menderita kemiskinan atau pun terus dalam kemiskinan. Apalagi orang yang memang benar-benar melakukan semua perintah Tuhan tidak akan pernah ditinggalkan atau dibiarkanNya. Burung di udara saja dipelihara apalagi umatNya yang setia.

Untuk itu jangan kita kuatir dengan kehidupan kita ini, Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan penyayang dan bukan Tuhan yang punya perasaan tega membiarkan umatNya jatuh dalam kemiskinan dan kesusahan.

Apa Sebenarnya Asuransi Jiwa Itu ?

Asuransi jiwa adalah sebuah usaha untuk berjaga-jaga seandainya suatu saat nanti seorang klien mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan nyawanya hilang atau sebut saja meninggal dunia. Lalu apa yang akan terjadi pada keluarga yang ditinggalkan adalah kesengsaraan dan kesulitan ekonomi. Mengapa hal ini sampai terjadi? Mungkin karena secara sederhana bahwa dengan perginya kepala keluarga maka pendapatan keluarga pun menurun dan bahkan mungkin tidak akan pernah ada lagi sejumlah uang yang masuk ke dalam perbendaharaan keuangan keluarga tersebut. Namun sebagai seorang ibu yang telah ditinggalkan oleh sang suami, terpaksa harus bekerja mencari uang guna memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Asuransi jiwa hadir untuk memastikan bahwa kesejahteraan keluarga tidak menurun, bahkan pendapatan keluarga pun bisa tetap stabil. Namun demikian asuransi jiwa hadir tidak hanya untuk memastikan hal itu saja, tetapi turut juga melindungi kliennya dari segala bentuk sakit penyakit yang mungkin akan dideritanya di masa yang akan datang, dengan catatan setelah sembilan puluh hari polis asuransinya berlaku.

Dengan melindungi klien yang menderita sakit parah, misalnya jantung, gagal ginjal, stroke dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Selain itu asuransi juga meng-cover kliennya yang mengalami kecelakaan, misalnya kecelakaan saat berpergian dengan kendaraan umum, kecelakaan pesawat terbang komersial, kebakaran di gedung umum, elevator yang bermasalah dan lain sebagainya. Apabila klien yang mengalami kecelakaan yang telah disebutkan diatas, tetapi tidak sampai kehilangan nyawanya, hanya mengalami cacat permanen pada bagian tubuh tertentu sehingga membuat dirinya tidak bisa bekerja lagi, maka pihak asuransi akan memberikan santunan berupa sejumlah uang untuk biaya rumah sakit dan jika ada sisanya dapat digunakan sesuai keinginan dari sang klien itu sendiri. Mungkin sisanya itu dapat membuka usaha agar dapat terus menghasilkan uang bagi keluarganya. Bahkan untuk beberapa anggota tubuh yang vital misalnya tangan, kaki, bahkan ruas jari itu ada hitung-hitungan harganya yang akan dibayarkan oleh pihak asuransi sebagai ganti rugi. Namun bila sang klien harus mendapat rawat inap di rumah sakit yang lebih dari dua malam, maka pihak asuransi juga akan mengeluarkan dana untuk biaya inap rumah sakit sebanyak seratus hari selama kurun waktu satu tahun, tentu dengan catatan setelah tida puluh hari polis asuransinya berlaku.

Selain itu premi yang disetorkan oleh klien dapat diambil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pihak asuransi. Dengan hata lain asuransi juga hampir sama fungsinya dengan tabungan, bahkan ada juga bunga yang diberikan oleh pihak asuransi sesuai dengan ketentuan bunga bank berlaku saat itu. Pada intinya asuransi hanya bertujuan untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan oleh sang kepala keluarga. Sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak akan mengalami kesengsaraan yang berkepanjangan. Hal ini terbukti juga dengan tidak adanya seorang istri adau anggota keluarga manapun yang menolak pemberian klaim asuransi jiwa.

“Manusia Juga Harus Berhikmat”

Sebelumnya yang harus kita pahami dulu adalah apa makna asuransi itu sebenarnya. Sebab, selama ini banyak orang yang selalu salah “menangkap” makna asuransi itu. Sehingga pola pikirnya cenderung menyalahkan asuransi dan berkata seolah-olah keselamatan itu bukan bergantung pada Tuhan. Ini kan keliru. Asuransi ini tidak ada hubungannya dengan keselamatan roh dan jiwa.

Agar tidak salah mengerti, sebaiknya konsep asuransi itu harus dipelajari dengan jelas, khususnya mengenai asuransi jiwa. Ini kan sebenarnya hanya sebuah perencanaan manusia sebagai safety hidup saja. Ya, sama saja seperti orang yang mau menyimpan uang di bank dan kenapa kita harus menabung? Padahal yang enak itu kan pihak bank. Bagi orang yang beriman tentu berpikir tidak akan menyimpan uangnya di bank, lebih baik menaruhnya di bawah bantal, lalu kebakaran dan hilang digondol maling, Itu kan semua pemikiran orang yang bodoh dan tidak berhikmat. Begitu pun dengan asuransi jiwa. Prinsipnya asuransi jiwa itu adalah sebuah upaya untuk meringankan beban seseorang yang mengalami musibah. Misalnya, apabila ada orang yang mengalami kecelakaan akan mendapatkan penggantian biaya (premi) oleh pihak asuransi. Di sini saya setuju dan tidak ada salahnya kalau punya uang lebih untuk ikut asuransi. Musibah kecelakaan itu bisa menerpa siapa saja dan kapan saja. Baik itu orang yang ikut asuransi maupun tidak. Termasuk juga kepada pendeta, uskup, kyai, pastor, biksu, dll. Bahkan Yesus sendiri pun mengalami sebuah penderitaan waktu di salib. Tetapi kalau kita ikut asuransi jiwa maka rasa takut dan kuatir itu bisa segera ditepis lantaran mendapatkan biaya penggantian dari pihak asuransi. Dan hal itu bukan berarti akan menjaminkan keselamatan, melainkan dengan adanya asuransi berguna untuk menjaminkan materi pada saat diperlukan.

Memang tidak sedikit orang kristen yang merasa ekstrimis dalam iman. Bahkan asuransi jiwa itu dihubungkan dengan keimanan kepada Tuhan Yesus. Meski alkitab itu tertulis, jangan kamu kuatir akan hidupmu tetapi yang harus dimengerti dulu adalah Tuhan itu telah memberikan hikmat kepada manusia. Bukankah pemerintah yang ada saat ini ditetapkan oleh Allah? Setuju atau tidak sebagai warga negara yang baik tentu harus hormat dan tunduk kepada pemerintah yang ada. Termasuk asuransi itu kan ditetapkan oleh pemerintah. Ini sebenarnya hanyalah persoalan mau atau tidak.

Orang yang ikut asuransi pun bukan berarti tidak mengandalkan Tuhan, tetap percaya pada saat apapun Tuhan pasti mencukupi. Persoalannya adalah kita juga harus memikirkan masa depan anak-anak. Misalnya saja, bila anak-anak masuk kuliah, bila hanya beriman kepada Tuhan tanpa melakukan usaha itu adalah tindakan gila karena tidak berhikmat. Sekali lagi ini tidak ada sangkut pautnya dengan keselamatan, dan bukan berarti mempertaruhkan nyawa kita kepada asuransi. Ini adalah sebuah kecerdikan yang digunakan untuk menanggulangi rasa kuatis manusia seperti yang tertulis dalam alkitab.

“Sudah Seperti Tabungan”

Setiap umat yang mau mengikuti asuransi jiwa itu boleh-boleh saja. Di dalam kehidupan yang serba modern seperti sekarang ini, hampir seluruh masyarakat kita sudah tidak alergi lagi dengan kata asuransi. Karena produk-produk asuransi jiwa yang berkembang sekarang ini sudah hampir sama dengan layaknya sebuah tabungan di bank. Fakta di lapangan seringkali membuktikan bahwa manajemen keuangan pribadi yang telah dikelola dengan sebaik mungkin, tetap tidak dapat menolong kehidupan kita di masa yang akan datang. Maksudnya adalah seperti faktor kecelakaan jiwa yang seringkali diakibatkan oleh kesalahan kita sendiri atau oleh kesalahan orang lain, atau mungkin juga karena faktor alam. Untuk itu, bagi anggota keluarga yang ditinggalkan seringkali yang menjadi korban. Jadi asuransi itu bukan sebagai suatu jaminan keselamatan, tetapi lebih kepada bagaimana mempersiapkan diri kepada segala sesuatu yang akan terjadi.

Produk-produk asuranasi yang banyak ditawarkan oleh kebanyakan perusahaan asuransi sekarang ini, sudah lebih modern dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Kalau dulu asuransi itu lebih condong seperti orang yang mempertaruhkan nyawanya seperti gambling saja. Tetapi di zaman sekarang ini, asuransi sudah seperti sebuah tabungan masa depan hanya saja dengan tingkat pengembalian yang kecil atau bisa juga disebut dengan suku bunga yang kecil, tetapi tetap lebih mengarah kepada jaminan anak dan istri yang nantinya ditinggalkan.

Asuransi yang sekarang ini hanyalah sebuah pola berpikir yang modern dan maju. Sebagai contoh di sebuah negara yang telah berkembang seperti Amerika Serikat, bila seseorang tidak memiliki polis asuransi justru ia tidak bisa mengambil kartu kredit, dia tidak bisa mengambil apapun juga. Apabila asuransi dikaitkan dengan iman, maka dapat kita simpulkan bahwa sekalipun kita yakin bahwa kita ini orang yang beriman, namun kadang-kadang kita tidak tahu kemungkinan hari ini terjadi sebuah kecelakaan yang dapat merenggut nyawa kita.

Bila kita ingat kepada Yusuf yang telah mempersiapkan tujuh tahun di masa kelimpahan untuk menghadapi tujuh tahun masa kekeringan, maka dapat kita anggap bahwa asuransi itu hampir sama persis dengan sebuah persiapan yang dilakukan oleh Yusuf. Tentu itu juga berarti bahwa kita bukannya tidak beriman. Janganlah kita terlalu picik mau menghubungkan hal itu (asuransi) dengan iman. Karena dengan beriman atau tidak beriman toh kita tetap akan mati juga. Persoalannya sekarang, kita bisa saja memiliki iman yang kuat, tetapi apakah anak kita juga memiliki kadar iman yang sama seperti kita. Satu hal yang pasti bahwa iman kita itu tidak sama dengan iman anak kita. Bisa saja kita beriman bahwa suatu waktu kita akan hidup makmur, tapi iman anak kita belum tentu sama.

Di dalam alam yang serga modern sekarang ini, Allah dapat memakai pemikiran orang, otak kita untuk mempersiapkan masa dengan dan yang pasti cara Tuhan itu jauh lebih baik. Yusuf bisa saja beriman tetapi fakta berbicara bahwa baik orang kristen maupun tidak tetap bisa mengalami masalah dan malapetaka.

Menanggapi firman Tuhan yang berkata bahwa kwsusahan hari ini cukupkah untuk hari ini, dan esok ada kesusahannya sendiri, kita harus mengerti terlebih dahulu secara kontekstual arti dari ayat itu di mana Allah sebenarnya ingin berbicara tentang “mengapa kau kuatir tentang hari esok”, tapi bukan berarti kita tidak perlu pikirkan hari esok. Kata kuatir di sini berarti kita sudah mulai masuk kedalam suatu titik….. dimana kita akan ….. karena dengan kekuatiran kita maka kita tidak percaya pada kuasa Tuhan. Tetapi untuk memanage hari esok yang jauh lebih baik tentu kita butuh hikmat dan untuk itu kita menandalkan Tuhan. Seringkali kekuatiran hari esok itu kita buat seakan akan telah terjadi hari ini.

Kita ikut asuransi bukan berarti hidup akan lebih tenang, tetapi dengan segala sesuatunya sudah terjamin dimasa yang akan datang justru membuat kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Anak tidak perlu lagi memikirkan apa yang akan terjadi seandainya orangtua mati. Dengan ketenangan yang sama kita jadi lebih tenang untuk memikirkan tentang Allah daripada memikirkan hari esok.

Perlu diingat juga bahwa dengan ikut asuransi itu tidak mengurangi iman kita kepada Tuhan, malah akan menolong iman kita kepada Tuhan. Kenapa? Karena ketika kita mengalami sakit atau mati kita tidak takut lagi akan hal itu karena sudah mempunyai back-up. Justru dengan ketenangan itu membuat kita tidak akan pernah sakit.

Tuhan Adalah Sumber Segala Berkat dan Hikmat

Sebagian orang kristen tidak mau berhubungan dengan asuransi jiwa disebabkan adanya pemahaman dan pegangan teologis yang beranggapan bahwa mengikuti asuransi jiwa bertentangan dengan firman Tuhan. Dalihnya, sebagai orang beriman, Tuhan Yesus pasti memelihara umatNya.

Tuhan Yesus sebagai pusat dari segala sumber kehidupan itu telah mempunyai rencana tersendiri bagi setiap orang atau umatNya. Itulah sebabnya mengikuti asuransi jiwa berarti sama dengan penyangkalan atas iman kristen. Orang yang mengikuti asuransi jiwa dinilai mempunyai kekuatiran yang berlebihan terhadap masa depan. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 1:1). Persoalannya adalah apakah mengikuti asuransi jiwa adalah menyangkal iman?

Ada dua pandangan mengenai hal ini. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Ada juga pertanyaan lain. Salahkan bila seseorang dengan hikmat Allah mempersiapkan bekal bagi orang-orang terdekat atau ahli warisnya melalui asuransi jiwa?

Fakta memang, akibat polis asuransi jiwa telah mengundang oknum-oknum tertentu selaku ahli waris tergoda melakukan dosa, seperti munculnya keinginan agar terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada orang yang tertanggung melalui polis asuransi.

Namun ada sisi lain asuransi jiwa dalam hal ini manfaat dari asuransi juga harus ditengok atau diperhatikan. Jangan dilupakan bahwa Tuhan Yesus juga memberikan hikmat kepada manusia ciptaanNya untuk melakukan atau bertindak sesuatu yang tujuannya untuk kebaikan atau sesuatu yang berguna. Sisi lainnya mengenai asuransi jiwa adalah apa yang diperoleh dari asuransi jiwa yaitu untuk kepentingan orang-orang terdekat atau sebut saja ahli waris dari orang yang mengasuransikan jiwanya.

Bila yang tertanggung meninggal dunia, maka ahli warisnya dapat menerima uang santunan sebagai bekal hidup, termasuk untuk mengurus pemakaman yang bersangkutan bila tiba waktunya dipanggil menghadap Bapa di surga. Soal kapan pemanggilan semuanya adalah rahasia Tuhan.

Berhubungan dengan konteks ini cerita Yusuf di Mesir sangat tepat dijadikan referensi. Yusuf yang oleh Firaun dinilai penuh dengan roh Allah berakal budi dan bijaksana diangkat menjadi orang yang sangat dipercaya untuk mengurus istana.

Di Mesir, Yusuf mengumpulkan lumbung-lumbung makanan. Dan ketika musim kelimpahan berganti dengan musim kalaparan, Yusuf tidak mengalami masalah akibat hikmat Tuhan. Jadi bila mengikuti asuransi dengan maksud sebagai kegiatan menabung atau berhubungan dengan teknis pengelolaan keuangan tidaklah salah.

Menjadi salah bila motivasi untuk mendapatkan perlindungan melalui asuransi berlebihan dan melupakan Tuhan sebagai sumber segala berkat dan sumber segala hikmat.

Boleh Memiliki Polis Asuransi Jiwa Asal Tidak Memaksakan Diri

Orang kristen yang ikut asuransi itu tidak salah, sebab asuransi itu hampir sama dengan kalau kita membeli sebuah rumah dengan cara dicicil. Otomatis sang developer rumah tersebut akan menuntut rumah itu segera diasuransikan untuk menjaga kalau terjadi sesuatu. Tetapi kalau kita berbicara mengenai asuransi jiwa, maka sangat perlu bagi kita untuk melihat kepada konteksnya mengapa kita mau ikut asuransi, atas dasar apa kita mau mengambil suatu polis asuransi jiwa. Meskipun begitu, bukan berarti kita sebagai orang kristen takut mati tanpa meninggalkan warisan kepada anak dan istri tercinta. Tetapi kalau tujuan kita ikut asuransi lebih kepada menabung maka hal itu dipandang baik adanya. Namun kalau kita ikut asuransi karena takut akan masa depan yang suram yang dengan segala kekuatirannya mendorong kita untuk ikut asuransi, maka pandangan seperti itu salah.

Kalau ada satu orang yang ingin agar uangnya didepositokan ke dalam sebuah bank, lalu dalam jangka waktu tertentu bank tersebut kolaps, apa yang harus diperbuatnya? Kalau uangnya itu digunakan untuk membayar polis asuransi, tentu uang yang kita setor setiap tahunnya akan direasuransikan kepada perusahaan asuransi yang jauh lebih kuat secara finansial. Dengan kata lain, uang kita pasti lebih aman jika dibandingkan dengan bank.

Lalu bagaimana dengan orang yang ikut asuransi jiwa yang biasanya mempunyai tujuan saat di amati bisa meninggalkan harta yang cukup besar agar istri dan anak-anaknya tidak hidup serba berkekurangan (miskin)? Pola pikir ini sepertinya mengurangi nilai iman percayanya kepada Tuhan yang sanggup memelihara seluruh keluarganya. Terlepas dari pemikiran dia yang agak ekstrim, maka sesungguhnya yang menjadi persoalan disini adalah belum tentu perusahaan asuransi akan langsung menerima pengajuan polis asuransi jiwanya. Perusahaan asuransi pasti akan mengecek umur, kesehatan, tinggi badan, berat badan, riwayat sakit penyakit sejak kecil dan berbagai tes kesehatan lainnya yang harus dia jalani. Dengan segala macam pengecekan kesehatan ini, tentunya segala manipulasi terhadap fakta yang sesungguhnya juga kecil.

Jadi intinya, kalau orang ikut asuransi apakah ada kemungkinan bahwa imannya bisa berkurang atau tidak? Tentu jawabannya janganlah kita cepat-cepat menghakimi dia atas keputusannya. Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah apakah kita sanggup membayar premi asuransi tiap bulannya atau tiap tahunnya? Karena untuk makan sehari-hari saja sudah susah apalagi untuk membayar premi asuransi. Lalu karena kita tahu manfaat asuransi itu baik lalu kita paksakan diri untuk ikut asuransi, ya itu sama saja dengan bunuh diri.

Orang kristen yang menolak mentah-mentah akan asuransi dengan berkata orang yang ikut asuransi berarti dia tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya di masa yang akan datang. Yang menjadi pertanyaan apakan sekarang orang itu mempunyai iman yang setaraf dengan kita?

Persoalan pelik seperti ini sama dengan kita berkata kita tidak usah ke dokter pasti nanti jiga sembuh dengan doa dan iman kepada Tuhan. Bagaimana kalau imannya belum dibangun? Sebab itu dia harus melangkah sesuai dengan imannya. Jika kita tidak sanggup jangan memaksa. Intinya terserah dengan orang itu yang penting dia tidak berdosa dengan Tuhan dan tidak membebani diri secara berlebihan. Dan keputusannya itu tidak menjadi beban untuk keluarganya terlebih untuk dirinya sendiri.

Jangan Membuat Iman Kita Menjadi Dangkal

Asuransi adalah bagian dari usaha manusia yang diberikan oleh Tuhan untuk mengembangkan dirinya karena Tuhan tidak memelihara kita seperti burung yang dilepas begitu saja. Manusia diberi oleh Tuhan sebuah kemampuan dan kapasitas untuk berpikir dan merencanakan hidupnya. Untuk itu asuransi hendaknya diterima sebagai salah satu usaha mengatur masa depan yang lebih baik.

Namun apabila asuransi dianggap sebagai suatu bukti atau indikasi tidak berimannya seseorang kepada Tuhan Yesus, maka pandangan itu terlalu berlebihan. Kecuali asuransi itu telah dijanjikan sebagai pengganti Tuhan. Karena kalau kita hendak memiliki satu polis asuransi dengan sebuah pola pikir bahwa seolah-olah hidup ini tidak memiliki masa depan tanpa asuransi itu adalah pandangan yang salah. Kenapa? Karena hal apa pun juga yang ada di dunia ini jika diposisikan sebagai pengganti Tuhan, maka hal tersebut salah besar termasuk juga bisnis, jabatan, kedudukan dan pekerjaan. Tetapi kalau hanya sekedar sebuah usaha yang memang harus dilakukan untuk memiliki masa depan yang lebih baik, itu berarti asuransi tidak salah.

Lalu apabila kita ingin menghubungkan asuransi dengan kekuatiran hidup seperti yang tertulis di dalam Alkitab Perjanjian Baru, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah kita harus melihat bahwa Yesus mengatakan kekuatiran itu, karena Dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang justru sangat dikuasai oleh kekuatiran itu sendiri. Tetapi pada saat yang bersamaan bukan berarti Yesus mengajarkan bahwa kita tidak boleh kuatir tentang hal apa pun juga. Yang Ia mau adalah agar kita berusaha dan membuat suatu rencana hidup agar di masa yang akan datang kita memiliki sebuah kehidupan yang lebih baik. Yang penting adalah bagaimana di dalam merencanakan hidup, Tuhan juga turut dilibatkan. Kalau memang kita ingin mengasuransikan hidup kita dengan tujuan supaya tidak menyusahkan Tuhan di masa yang akan datang, maka sikap seperti itu harus diterima dengan baik tanpa mengurangi keyakinan akan janji Tuhan digenapi dalam hidupnya. Meskipun asuransi sebenarnya bukanlah suatu jaminan yang benar, yang berarti juga bahwa asuransi itu relatif. Niali asuransi bisa saja mencukupi kebutuhan hidup kita di masa yang akan datang dan bisa juga tidak mengingat inflasi mata uang.

Tuhan sendiri tidak pernah mengatakan kepada kita untuk berdian diri dan tidak melakukan usaha apa pun juga hanya karena Tuhan telah menjamin masa depan kita. Tetapi Tuhan mendorong kita untuk bekerja, berpikir dan berusaha dengan akal yang kita miliki. Karena akal yang diberikan Tuhan ini harus digunakan bukan hanya didiamkan saja.

Jika kita bekerja pada suatu perusahaan, tentu kita akan mengharapkan gaji pada setiap bulannya. Tapi jika kita pergi melayani pekerjaan Tuhan, maka melalui orang-orang yang ada di sana kita mungkin mendapat sesuatu sebagai alat untuk kelangsungan hidup kita sendiri. Karena kita tidak begitu saja melayani lalu mengharapkan berkat itu turun dan jatuh dari langit. Tentu berkat Tuhan itu datangnya melalui suatu proses. Saat kita memegang polis asuransi maka secara otomatis kita melakukan ora et labora yang berarti berdoa tetapi juga bekerja.

Bila ada jemaat yang mau memiliki polis asuransi, jelas hal itu tidak berdosa, sebab asuransi tidak berarti bahwa kita tidak percaya atas pemeliharaan Tuhan. Pada saat kita menyimpan sejumlah uang di bank, itu juga bukan berarti kita tidak percaya pada Tuhan. Kalau kita membuka bisnis itu dan ini bukan berarti kita tidak percaya pada Tuhan. Yang penting adalah bagaimana kita melibatkan Tuhan dalam semua aktivitas yang dikerjakan.

Intinya, jangan kita membuat iman kita ini menjadi dangkal, sebab iman itu sendiri harus disertai dengan perbuatan dan dengan perencanaan mengenai kehidupan di masa datang. Dan tentunya ini dilakukan hanya untuk melayani Tuhan.

Semoga renungan ini memberkati anda

Salam,

Augustpepe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares
error: